Senin, 8 Desember 2025, suasana kantor Solite Kids terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Hari itu, 53 siswa dari SMP Ma’arif Sumurber, Panceng – Gresik datang berkunjung dengan penuh rasa penasaran. Mereka tidak hanya ingin melihat kantor perusahaan teknologi, tetapi juga ingin memahami seperti apa dunia digital yang sedang berkembang dan membentuk masa depan generasi mereka.

Mengenal Perjalanan Solite Kids

Kegiatan dimulai dengan sesi perkenalan mengenai perjalanan Solite Kids. Para siswa diajak mengenal lebih dekat siapa Solite Kids, untuk siapa kami berkarya, serta bagaimana setiap produk yang dibuat bertujuan mendukung masa depan pendidikan anak-anak Indonesia.

Melalui cerita ini, para siswa memahami bahwa teknologi tidak hanya tentang perangkat atau aplikasi, tetapi juga tentang ide, kreativitas, dan visi untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Memahami Proses Pembuatan Game

Selanjutnya, para siswa diajak menyelami bagaimana sebuah game lahir.

Mereka belajar bahwa sebuah game tidak tercipta begitu saja. Di balik setiap karakter, setiap animasi, bahkan setiap tombol yang mereka tekan saat bermain, terdapat proses panjang yang melibatkan ide kreatif, desain visual, serta barisan kode yang ditulis oleh para programmer.

Bagi banyak siswa, ini menjadi pengalaman baru untuk melihat bahwa game yang mereka mainkan sebenarnya adalah hasil kerja kolaborasi berbagai profesi di dunia digital.

Diskusi tentang Teknologi dan Masa Depan

Pada sesi tanya jawab, para siswa menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka bertanya tentang berbagai hal, mulai dari teknologi, peluang karier di bidang digital, hingga bagaimana mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Tim mentor dari Solite Kids pun menjawab dengan satu pesan penting:

“Siapa pun bisa menjadi pencipta teknologi, tidak hanya sebagai pengguna.”

Pesan ini menjadi motivasi bagi para siswa untuk mulai melihat teknologi sebagai peluang untuk berkarya dan berinovasi.

Liga Coding: Kompetisi Seru Para Siswa

Keseruan mencapai puncaknya pada sesi Liga Coding.

Sebanyak enam tim saling berkompetisi menyelesaikan tantangan visual coding. Setiap tim bekerja sama menyusun logika dan strategi untuk menyelesaikan berbagai tantangan yang diberikan.

Pada babak final, tantangan semakin menarik. Para peserta diminta untuk menciptakan sebuah algoritma yang dapat membentuk gambar hanya dengan menggunakan kode-kode logika.

Sorak sorai, tepuk tangan, dan semangat kompetisi memenuhi ruangan saat setiap tim berusaha memberikan yang terbaik.

Ketika nama pemenang akhirnya diumumkan, para siswa merasakan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar hadiah—sebuah pengalaman belajar yang menyenangkan dan berkesan.

Menutup Hari dengan Kenangan

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara para siswa, guru pendamping, dan tim Solite Kids.

Hari itu bukan sekadar kunjungan sekolah. Bagi banyak siswa, ini adalah langkah kecil yang membawa mereka lebih dekat pada mimpi mereka di dunia teknologi.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi untuk terus belajar, berkreasi, dan berani mencoba hal-hal baru.

Sampai bertemu di kunjungan berikutnya bersama Solite Kids.